| Emile Hirsch sebagai McCandless |
Into The Wild,
membaca judulnya saya membayangkan film ini menceritakan keganasan dan kekerasan.
Dan ternyata film ini menceritakan sebuah penggalan pengalaman problematik
seorang Sarjana. Yang pada suatu fase dalam hidupnya memilih berjalan pada
jalur yang keras dan kejam. Bukan kejam seperti zombie atau tukang jagal. Tapi
kejam dan kerasnya hidup menyatu dengan alam.
Sepenggal kisah
Yang menarik
adalah, tokoh dalam film ini adalah seorang sarjana. Ia bernama Chris
McCandless. Seorang sarjana yang setelah wisuda di Emory University mengatakan
kepada ayah dan ibunya akan melanjutkan kuliahnya di jurusan hukum Harvard
University. Tapi betapa mengejutkannya, setelah itu dia pamit kepada bapak
kosnya untuk pergi tanpa memberitahu kemana. Dia sudah menyiapkan segalanya.
Pergi membawa mobil bututnya menuju entah kemana tanpa tujuan. Dalam batin dia
mengutarakan keinginan kuatnya menjauhkan diri dari “history, pressure, law,
and irks some applications,” dan “absolute freedom”.
Hingga disebuah
tempat mobilnya terdampar dan terhantam bah, dia pun meninggalkannya disana,
membakar uang yang dibawanya. Jadilah dia Leather Tramp, julukan untuk
petualang yang berjalan kaki. Dia pun mengubah namanya menjadi Alexander
Supertramp. Dengan membawa perlengkapan di tas ransel dia berjalan terus entah
menuju kemana, tanpa tujuan yang diniatkannya. Dia pun bertemu dengan banyak para
petualang lain seperti dirinya, tapi kebanyakan menggunakan mobil. Alex berbagi
cerita dengan mereka. Yang menyedihkan dari cerita Alex adalah bahwa masalahnya
berawal dari keluarga.
Ayah dan ibunya
yang menyebabkan Alex pergi tanpa tujuan. Menurutnya, hubungan ayah dan ibunya
itu adalah hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Karena ayahnya yang menjadi
pejabat di NASA menikahi ibunya sebagai wanita simpanan. Sering terjadi bahwa
pernikahan seperti ini rentan dengan ketidakharmonisan. Alex sering melihat
mereka berdua bertengkar hebat. Akibatnya, Alex dan adik perempuannya
satu-satunya, Billie McCandless, menjadi tidak nyaman dirumah.
Menurut Alex,
pelarian ini dia lakukan untuk menghukum ayah dan ibunya. Meski mereka adalah
orang tua yang berusaha mencukupi kebutuhan anak-anak, dan meski Alex adalah
sarjana yang pintar. Dan benar, ayah dan ibunya merasa kehilangan. Billie pun
merekam hari-hari setelah kakaknya minggat dalam buku catatannya.
Pelajaran hidup
Ditengah jalan,
Alex tiba-tiba ingin menuju ke Alaska dan menyepi disana. Dijalan, Alex
menemukan banyak pelajaran. Bahwa memang orang-orang yang seperti dirinya
sedang minggat, meninggalkan problem hidup. Menurut Alex, kesalahan tatanan
hidup yang begitu menekan ini harus di hukum dengan minggat. Tanpa uang, KTP,
identitas, dan aturan negara atau ikatan-ikatan sosial. Minggat membuatnya
bebas tidak terbebani apapun, termasuk ijazah misalnya, atau gelar. Minggat
membuatnya menemukan bahwa tidak ada korelasi yang harus antara gelar, ijazah
dengan pekerjaan. Toh dia tetap bisa makan dan hidup.
Kepada Franz,
seorang tua pensiunan militer yang ditemuinya, dia menyatakan bahwa karir itu
penemuan abad 20, dan dia tidak harus berkarir, meskipun dia sarjana. Tapi
rupanya kesinisan Alex kepada sistem hidup masa kini hanya alasan yang dia
jadikan untuk berkilah dalam rangka membenarkan minggatnya. Kesinisan itu hanya
kondisi sesaat saja, karena saat itu dia sedang marah dan kesal.
Terbukti ketika
suatu saat rasa rindunya pada adik dan orang tuanya. Baik saat masih di
perjalanan maupun ketika sudah di Alaska. Tapi dia mampu menahan rasa rindu
karena rasa kesal itu masih ada. Sehingga dia pun benar-benar berani untuk
sampai ke Alaska dan menjalani hidup seorang diri didalam sebuah kerangka bus
di tengah hutan Alaska untuk beberapa lama.
Hari-harinya di
bus lusuh itu dia nikmati dengan kesendirian yang dia namai meninggalkan
peradaban. Karena peradaban menurutnya kejam. Saking senangnya, dia pun
berteriak-teriak, bermain-main seperti orang yang masa kecilnya kurang bahagia,
dan seterusnya. Dia tidak merasa butuh orang lain, karena kesulitan yang
dihadapinya disana adalah kenikmatan hidup tanpa peradaban.
Awal sampai di
Alaska ketika musim dingin, banyak binatang yang bisa diburunya untuk dimakan.
Hingga beberapa bulan datanglah musim panas. Pada sebuah halaman buku yang dia
baca, berjudul Family Happiness, Leo Tolstoy menulis tentang bekerja dan berkarir,
membuat sesuatu yang berarti dalam hidup, kemudian menikah, beranak dan
berkeluarga, lalu istirahat menikmati masa-masa tua, itulah kebahagian. Alex
terpengaruh, dan tiba-tiba merasa rindu dengan semua itu. Dia pun bersiap-siap
untuk meninggalkan Alaska.
Tapi, ternyata
dia terjebak. Sungai yang pernah dilaluinya dalam keadaan membeku di musim
dingin itu ternyata besar sekali arusnya, kini dia tidak bisa menyeberang. Dia
pun kembali ke bus itu dan meneruskan hidupnya. Tapi hewan-hewan yang bisa di makan
tidak lagi ada. Mereka berhijrah. Dia pun terpaksa menjadi vegetarian. Namun
malang, dia memakan dedaunan yang salah. Dedauan itu beracun dan mengakibatkan
kematian. Tubuhnya sudah tercemari racun dan bingung harus bagaimana
membuangnya.
Semakin hari tubuhnya
semakin lemas dan lemah. Ditengah-tengah rasa sakit dan bingung. Ketika dengan
tubuh yang kurus sudah tidak lagi bertenaga, Alex menuliskan kalimat di dalam
buku bacaannya: “happiness only real when shared”. Air matanya menetes melewati
pipinya yang pucat. Lalu dia pun menyelimuti tubuhnya dengan tas selimut,
seolah sudah tampak akhir hidupnya, Alex berbaring di atas ranjang lusuh di
dalam bus itu. Ajalnya pun sampai. Racun itu mengakhiri hidupnya.
Dari kisah nyata
| Christopher McCandless |
Hal lain yang
menarik adalah, film ini berdasarkan cerita nyata yang terjadi pada Christopher
McCandless (1968 – 1992). Seperti yang dituliskan di Wikipedia, empat bulan
kemudian setelah dia menjalani hidup di Alaska, sisa-sisa tubuhnya ditemukan
dan beratnya sekitar 30 kg. ia meninggal karena kelaparan dekat Danau Wentitika di Denali National
Park and Preserve.
Faktanya,
ketika sedang mengalami kondisi yang sangat lemah itu Chris menuliskan catatan
peringatan untuk siapapun pengunjung Alaska yang lewat:
"Attention Possible
Visitors. S.O.S. I need your help. I am injured, near death, and too weak to
hike out. I am all alone, this is no joke. In the name of God, please remain to
save me. I am out collecting berries close by and shall return this evening.
Thank you, Chris McCandless. August?"
Banyak
orang yang menyayangkan kematiannya. Itu karena dia benar-benar nekat menuju
Alaska tanpa persediaan dan peralatan yang lengkap. Disisi lain, peringatan
yang dia tulis menunjukkan dirinya memang belum siap mati. By the way, sisi
menarik ini hanya sekedar diambil inspirasinya saja, bahwa ternyata ada sisi
lain dari kehidupan manusia yang sangat luas ini. Tapi, sebaiknya jangan ditiru.
Sistem hidup ini memang rumit dan kadang ironis. Tapi melarikan diri atau minggat itu kan tidak
jantan, iya kan?

