Sarjana Itupun Mati Tanpa Gelar Dan Peradabannya

Posted On // Leave a Comment
Emile Hirsch sebagai McCandless
Teman yang memberi file film yang berjudul Into The Wild ini bilang, ini film bagus. Itu saja, entah bagus dari segi mana, gambarannya seperti apa. Bagus saja. Ketika saya lihat durasinya sekitar 2 jam 28 menit, cukup kaget juga. Cukup panjang juga, seperti durasi film layar lebar Cina saja. Film yang berdurasi lebih dari dua jam biasanya berusaha menceritakan secara tuntas dan lengkap. Tidak tergesa-gesa. Jadi logikanya memang seharusnya bagus, sebab kalau tidak bagus, durasi lebih dari dua jam akan menyia-nyiakan tenaga dan biaya pembuatannya.
Into The Wild, membaca judulnya saya membayangkan film ini menceritakan keganasan dan kekerasan. Dan ternyata film ini menceritakan sebuah penggalan pengalaman problematik seorang Sarjana. Yang pada suatu fase dalam hidupnya memilih berjalan pada jalur yang keras dan kejam. Bukan kejam seperti zombie atau tukang jagal. Tapi kejam dan kerasnya hidup menyatu dengan alam.

Sepenggal kisah
Yang menarik adalah, tokoh dalam film ini adalah seorang sarjana. Ia bernama Chris McCandless. Seorang sarjana yang setelah wisuda di Emory University mengatakan kepada ayah dan ibunya akan melanjutkan kuliahnya di jurusan hukum Harvard University. Tapi betapa mengejutkannya, setelah itu dia pamit kepada bapak kosnya untuk pergi tanpa memberitahu kemana. Dia sudah menyiapkan segalanya. Pergi membawa mobil bututnya menuju entah kemana tanpa tujuan. Dalam batin dia mengutarakan keinginan kuatnya menjauhkan diri dari “history, pressure, law, and irks some applications,” dan “absolute freedom”.
Hingga disebuah tempat mobilnya terdampar dan terhantam bah, dia pun meninggalkannya disana, membakar uang yang dibawanya. Jadilah dia Leather Tramp, julukan untuk petualang yang berjalan kaki. Dia pun mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp. Dengan membawa perlengkapan di tas ransel dia berjalan terus entah menuju kemana, tanpa tujuan yang diniatkannya. Dia pun bertemu dengan banyak para petualang lain seperti dirinya, tapi kebanyakan menggunakan mobil. Alex berbagi cerita dengan mereka. Yang menyedihkan dari cerita Alex adalah bahwa masalahnya berawal dari keluarga.
Ayah dan ibunya yang menyebabkan Alex pergi tanpa tujuan. Menurutnya, hubungan ayah dan ibunya itu adalah hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Karena ayahnya yang menjadi pejabat di NASA menikahi ibunya sebagai wanita simpanan. Sering terjadi bahwa pernikahan seperti ini rentan dengan ketidakharmonisan. Alex sering melihat mereka berdua bertengkar hebat. Akibatnya, Alex dan adik perempuannya satu-satunya, Billie McCandless, menjadi tidak nyaman dirumah.
Menurut Alex, pelarian ini dia lakukan untuk menghukum ayah dan ibunya. Meski mereka adalah orang tua yang berusaha mencukupi kebutuhan anak-anak, dan meski Alex adalah sarjana yang pintar. Dan benar, ayah dan ibunya merasa kehilangan. Billie pun merekam hari-hari setelah kakaknya minggat dalam buku catatannya.

Pelajaran hidup
Ditengah jalan, Alex tiba-tiba ingin menuju ke Alaska dan menyepi disana. Dijalan, Alex menemukan banyak pelajaran. Bahwa memang orang-orang yang seperti dirinya sedang minggat, meninggalkan problem hidup. Menurut Alex, kesalahan tatanan hidup yang begitu menekan ini harus di hukum dengan minggat. Tanpa uang, KTP, identitas, dan aturan negara atau ikatan-ikatan sosial. Minggat membuatnya bebas tidak terbebani apapun, termasuk ijazah misalnya, atau gelar. Minggat membuatnya menemukan bahwa tidak ada korelasi yang harus antara gelar, ijazah dengan pekerjaan. Toh dia tetap bisa makan dan hidup.
Kepada Franz, seorang tua pensiunan militer yang ditemuinya, dia menyatakan bahwa karir itu penemuan abad 20, dan dia tidak harus berkarir, meskipun dia sarjana. Tapi rupanya kesinisan Alex kepada sistem hidup masa kini hanya alasan yang dia jadikan untuk berkilah dalam rangka membenarkan minggatnya. Kesinisan itu hanya kondisi sesaat saja, karena saat itu dia sedang marah dan kesal.
Terbukti ketika suatu saat rasa rindunya pada adik dan orang tuanya. Baik saat masih di perjalanan maupun ketika sudah di Alaska. Tapi dia mampu menahan rasa rindu karena rasa kesal itu masih ada. Sehingga dia pun benar-benar berani untuk sampai ke Alaska dan menjalani hidup seorang diri didalam sebuah kerangka bus di tengah hutan Alaska untuk beberapa lama.
Hari-harinya di bus lusuh itu dia nikmati dengan kesendirian yang dia namai meninggalkan peradaban. Karena peradaban menurutnya kejam. Saking senangnya, dia pun berteriak-teriak, bermain-main seperti orang yang masa kecilnya kurang bahagia, dan seterusnya. Dia tidak merasa butuh orang lain, karena kesulitan yang dihadapinya disana adalah kenikmatan hidup tanpa peradaban.
Awal sampai di Alaska ketika musim dingin, banyak binatang yang bisa diburunya untuk dimakan. Hingga beberapa bulan datanglah musim panas. Pada sebuah halaman buku yang dia baca, berjudul Family Happiness, Leo Tolstoy menulis tentang bekerja dan berkarir, membuat sesuatu yang berarti dalam hidup, kemudian menikah, beranak dan berkeluarga, lalu istirahat menikmati masa-masa tua, itulah kebahagian. Alex terpengaruh, dan tiba-tiba merasa rindu dengan semua itu. Dia pun bersiap-siap untuk meninggalkan Alaska.
Tapi, ternyata dia terjebak. Sungai yang pernah dilaluinya dalam keadaan membeku di musim dingin itu ternyata besar sekali arusnya, kini dia tidak bisa menyeberang. Dia pun kembali ke bus itu dan meneruskan hidupnya. Tapi hewan-hewan yang bisa di makan tidak lagi ada. Mereka berhijrah. Dia pun terpaksa menjadi vegetarian. Namun malang, dia memakan dedaunan yang salah. Dedauan itu beracun dan mengakibatkan kematian. Tubuhnya sudah tercemari racun dan bingung harus bagaimana membuangnya.
Semakin hari tubuhnya semakin lemas dan lemah. Ditengah-tengah rasa sakit dan bingung. Ketika dengan tubuh yang kurus sudah tidak lagi bertenaga, Alex menuliskan kalimat di dalam buku bacaannya: “happiness only real when shared”. Air matanya menetes melewati pipinya yang pucat. Lalu dia pun menyelimuti tubuhnya dengan tas selimut, seolah sudah tampak akhir hidupnya, Alex berbaring di atas ranjang lusuh di dalam bus itu. Ajalnya pun sampai. Racun itu mengakhiri hidupnya.

Dari kisah nyata
into the wild
Christopher McCandless
Hal lain yang menarik adalah, film ini berdasarkan cerita nyata yang terjadi pada Christopher McCandless (1968 – 1992). Seperti yang dituliskan di Wikipedia, empat bulan kemudian setelah dia menjalani hidup di Alaska, sisa-sisa tubuhnya ditemukan dan beratnya sekitar 30 kg. ia meninggal karena kelaparan dekat Danau Wentitika di Denali National Park and Preserve.
Faktanya, ketika sedang mengalami kondisi yang sangat lemah itu Chris menuliskan catatan peringatan untuk siapapun pengunjung Alaska yang lewat:
"Attention Possible Visitors. S.O.S. I need your help. I am injured, near death, and too weak to hike out. I am all alone, this is no joke. In the name of God, please remain to save me. I am out collecting berries close by and shall return this evening. Thank you, Chris McCandless. August?"
Banyak orang yang menyayangkan kematiannya. Itu karena dia benar-benar nekat menuju Alaska tanpa persediaan dan peralatan yang lengkap. Disisi lain, peringatan yang dia tulis menunjukkan dirinya memang belum siap mati. By the way, sisi menarik ini hanya sekedar diambil inspirasinya saja, bahwa ternyata ada sisi lain dari kehidupan manusia yang sangat luas ini. Tapi, sebaiknya jangan ditiru. Sistem hidup ini memang rumit dan kadang ironis. Tapi  melarikan diri atau minggat itu kan tidak jantan, iya kan?



[Read more]

Level Hamba Tertinggi Disisi Allah

Posted On // Leave a Comment

level hamba tertinggi disisi allah
from apod-id.com
Dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal disebutkan suatu ketika Rasulullah saw. memberi lima rumus perilaku kepada Abu Hurairah dan para Sahabat lain, salah satu dan yang pertama dari lima rumus tersebut berbunyi “ittaqi al-maarim takun a’bad an-nas”. Artinya, jauhilah larangan-larangan Allah maka engkau menjadi orang yang paling menghamba. Hadis ini juga disebutkan dalam Sunan ibn Majjah dan At-Tirmidzi.
Rasulullah menyebutkan kalimat a’bad an-nas yang berarti orang yang paling menghamba, berasal dari kata ‘ibadah. Makna ibadah sendiri secara umum menurut para ulama adalah semua ucapan dan perilaku lahir batin manusia yang dicintai oleh Allah. Artinya, ketika seseorang menjauhi larangan Allah, saat itulah dia sedang dalam level sebagai orang yang paling menghamba, atau dengan kata lain sedang berada pada amalan ibadah yang paling tinggi derajatnya. Dan itu berarti, menjauhi larangan Allah adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah dari pada amalan ibadah yang lain. Rasulullah juga menjelaskan dalam hadis yang lain bahwa derajat ini sama dengan derajat Nabi Dawud a.s. karena amalan puasanya (puasa dawud).
Tentu ada alasannya mengapa menjauhi larangan Allah (maksiat) lebih tinggi derajatnya dari pada amalan-amalan ibadah yang lain. Pertama, karena orang yang melakukan amalan ibadah seperti shalat, puasa dan lainnya belum tentu terhindar dari perbuatan maksiat. Contohnya, ada orang mampu melaksanakan ibadah haji tapi juga masih berani korupsi dan mencela saudara sendiri.
Kedua, perbuatan maksiat dapat merusak pahala dan faedah amalan ibadah. Meskipun setiap amalan ibadah memiliki faedah dan nilai pahala, akan tetapi faedah dan pahala tersebut bisa hilang karena terganggu oleh maksiat. Banyak perbuatan tak terpuji yang dapat merusak faedah dan pahala ibadah, seperti menyekutukan Allah, zalim atau mencaci seorang muslim.
Ketiga, melakukan maksiat bisa terjadi dalam amalan ibadah dan hal ini juga bisa merusak ibadah itu sendiri atau menghilangkan nilainya. Riya’ (pamer) ketika shalat, sedekah, puasa atau haji juga sering kali terjadi. Mengemban amanat juga salah satu bentuk ibadah, tetapi menyalahgunakan amanat itu sendiri juga sering terjadi saat menjalankannya.
Tapi bukan berarti amalan ibadah lain menjadi tidak penting. Justru, ketika kita menjauhi larangan Allah swt. saat itu juga kita sedang menjalankan perintahNya, yaitu perintah menjalankan kewajiban-kewajiban dan perintah menjauhi larangan-laranganNya. Semoga Allah memudahkan kita semua. Wallahu a’lam.




[Read more]

Nikmatnya Bersilat Lidah Dengan Liberty

Posted On // Leave a Comment

Seorang lelaki berkulit hitam setelah bercakap dengan Liberty, tanpa Liberty tahu siapa sebenarnya si lelaki yang bernama Joe itu, berpikir sejenak untuk melakukan aksi berikutnya. Nafasnya berkali-kali dihelanya dengan berat. Dibalik jendela kaca pada ketinggian puncak sebuah gedung di sekitar taman kota dia melihat keluar bawah tampak sana sangat ramai. Macam-macam kelompok kepolisian dan keamanan sudah menguasai area untuk segera menemukan pelaku teror yang sedang berlangsung.
Dia berpikir, sulit untuk lolos mengingat posisinya sudah begini. Tapi untunglah rekamanan percakapan antara dirinya dengan Liberty tadi sudah ia kirimkan ke sebuah lembaga otoritas. Dia yakin, pasti kasus itu akan ditangani. Dengan sikap tenang, dia acungkan pucuk pistol revolver handgun ke dagunya, mengarah ke atas. Dan dalam satu tarikan ringan jarinya, kepanya sudah ditembus pelurunya. Dia mati. Darahnya yang kental membanjiri lantai. Lalu dalam beberapa detik saja, pasukan SAS sudah mengepung mayatnya yang masih segar itu. Ya, teroris itu sudah mengakhiri hidupnya.

Liberty Stand Still
Itu tadi hanya sepenggal peristiwa terakhir dalam film Liberty Stand Still. Film yang disutradarai Kari Skogland dirilis pada tahun 2002. Buat penggemar film-film action atau penggemar tokoh-tokoh tertentu, genre film ini tidak menarik. Tapi jika kamu suka membaca novel seperti karya Agatha Crhistie atau Sidney Sheldon, kamu akan sangat menikmati film ini. Ya, novel memang cenderung dramatis. Tapi percayalah, kedramatisan Liberty Stand Still tidak sedramatis – misalnya – cerita-cerita dalam film Korea atau seperti telenovella. Liberty Stand Still menyajikan sebuah drama silat lidah yang cerdas dan mengasyikkan.
Pertama, lokasi / setting film 98 persen berada pada satu lokasi. Sebuah taman yang didepannya terdapat gedung teater. Saya tidak tahu nama tempat itu. Bayangkan, 98 persen! Hanya orang-orang itu saja, dan tempat itu saja yang ditampilkan. Tapi justru disinilah menariknya, saya tidak menemukan rasa bosan, bahkan semakin penasaran dari menit ke menit selanjutnya.
Kedua, alur yang tidak mudah dibaca. Meskipun sejak percakapan antara Joe dan Liberty terjadi si lakon sudah bisa ditebak. Tapi, menariknya justru orang yang saya yakini sebagai lakon akhirnya mati, dan orang yang saya kira penjahat malah dibiarkan hidup karena dia sadar dengan dosa-dosanya. Juga alur tersebut tidak dikandalikan oleh bentuk adegan yang berlainan, tetapi dengan pembicaraan. Ya, hanya melalui pembicaraan antara Joe dan Liberty, saya bisa menggambarkan seolah-olah adegan lain dan tokoh lain di tempat lain sedang terjadi. Padahal scene-nya hanya mereka berdua saja.
Ketiga, silat lidah. Joe, seorang kulit hitam warga negara AS adalah mantan anggota militer yang sudah menjalankan banyak misi. Melalui telepon dan bersembunyi dibalik tembok gedung, dia mengadu dan menghakimi Liberty Wallace, istri seorang anggota parlemen Victor Wallace. Ayah Liberty telah meninggal dan mewariskan perusahaan senjata api McCloud. Tapi demi mengembangkan pabrik itu, oleh sang ayah Liberty dinikahkan dengan Victor mengingat posisinya di parlemen. Liberty tidak cinta, dia pun selingkuh dengan seorang pemeran teater, Russell Williams.
Anak perempuan Joe satu-satunya yang masih duduk di SD mati karena menjadi korban penembakan teman sekelasnya. Ternyata pistol yang digunakan adalah produk McCloud. Joe berang dan dendam, dia pun menghakimi McCloud melalui Liberty dengan cara unik. Hanya melalui pembicaraan telepon, Joe mampu memborgol kaki Liberty pada sebuah gerobak sandwich di tengah taman. Dan saat itulah Joe mendebat Liberty, sebuah debat yang akhirnya menyadarkan Liberty tentang keburukan bisnis senjata api. Hebatnya, Liberty sebagai seorang wanita kaya raya, istri pejabat, mudah berkata kotor dan cabul, bisa sadar.
Keempat, ide cerita. Menarik, karena silat lidah itu mengungkap alur cerita yang sebenarnya panjang. Tapi timing peristiwa dalam film tersebut dibuat seperti nyata. Semua percakapan antara Liberty dengan Joe tidaklah memakan waktu hingga setengah hari, tidak ada scene pergantian hari. Yang terjadi, percakapan tersebut berjalan secara realtime, live, seperti kita menonton sepak bola secara live. Dan peristiwa itu pun berakhir pada hari itu juga. Cerita yang dimuat juga realistis. Ini mencontohkan sebuah protes / demontrasi dengan cara unik, tetapi konkrit (its works). Pemrotes berhasil mencapai maksudnya sesuai kapasitas masalahnya, meskipun pada akhirnya dia mati.

Dan akhirnya..
Inti film Liberty Stand Still memang balas dendam. Tapi penilaian saya bukan pada hal ini. Rata-rata film bertemakan balas dendam atau kepahlawanan. Hanya saja cara dan ceritanya berbeda-beda. Liberty Stand Still menawakan sebuah konsep berbeda dalam menuntun cerita serta setting latarnya dalam perfilman. Tapi sungguh, konsep seolah-olah live dan realtime itu yang memang menarik.



[Read more]

Kesombongan Lebih Berbahaya Daripada Bid’ah

Posted On // Leave a Comment

Alkisah (al-Baqarah: 34) dahulu sebelum Allah menciptakan Nabi Adam, iblis berada pada satu “lingkungan” dengan para malaikat. Karena satu kawasan itulah maka iblis pun mampu berbuat taat seperti halnya para malaikat. Dia dapat menghamba kepada Allah layaknya mereka menyembah-Nya. Hingga suatu saat Allah pun menciptakan Adam, kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepadanya. Saat itulah iblis menolak mentah-mentah, seraya berdalih bahwa dia lebih baik dari Adam karena materi tubuh iblis lebih baik dari pada materi tubuh Adam.
Dan sejak itulah Allah mengutuk iblis dan men-cap dia sebagai makhluk kafir. Ya, sekali lagi, kafir. Bahkan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir-nya menegaskan bahwa penggunaan rangkaian kalimat wakāna minal kāfirin menunjukkan kufurnya iblis itu kufur yang sangat parah, karena penggunaan kata kerja kāna dalam susunan seperti ini menunjukkan makna khobarnya (yakni sifat kufur) sangat menancap kuat dalam ismnya (yakni sang iblis). Dan karena kufur yang sangat akut itulah iblis dipastikan untuk menjadi penghuni neraka.
Mengapa kok iblis sampai di kafirin oleh Allah? Ada beberapa premis untuk sampai kepada jawabannya. Pertama, hakekat iblis. Mayoritas ulama – sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab tafsir – menggolongkan iblis dalam kelompok malaikat, dia sebangsa dengan para malaikat itu, karena titah Allah ditujukan kepada mereka, dan secara tekstual ayat al-Qur’an menunjukkan iblis adalah sebangsa dengan mereka. Sedangkan minoritas menyatakan bahwa iblis sebangsa dengan jin, karena ungkapan yang jelas dalam surah al-Kahfi: 50 dan pengakuan iblis sendiri tentang asal-usulnya dalam surah al-A’raf: 12. Qotadah dalam Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa iblis mengklaim dirinya berasal dari api dan dia (Adam) dari tanah.
Akan tetapi secara gamblang Ibnu ‘Asyur menjelaskan kebenaran pendapat kedua bahwa pengecualian pada ayat: 34 surah al-Baqarah tersebut adalah pengecualian tak sejenis (istisna’ munqothi’), kata Ibnu ‘Asyur: “…(si iblis termasuk dalam bangsa jin) – al-Kahfi: 50 – akan tetapi Allah dengan kehendak-Nya menjadikan kondisi kehidupannya (ahwal) layaknya jiwa malaikat yang dapat menutupi tabiat aslinya agar memungkinkan dia bergaul selingkungan dengan mereka..”. Karena iblis diberi kemampuan untuk selingkungan dengan malaikat, dia pun dapat mengikuti “kegiatan” mereka. Akan tetapi saat para malaikat dengan tulus ikhlas sujud kepada Adam atas titah Allah, iblis justru sebaliknya, watak aslinya muncul dan meruntuhkan dinding ahwal yang membuatnya bisa bergaul dengan malaikat itu. Iblis menjadi makhluk lain di tengah-tengah kerumunan para malaikat.
Kedua, watak asli tersebut mendorong iblis untuk menolak titah Allah dan dia pun menjadi sombong (takabbur). Akhirnya sikap itulah yang dinilai Allah sebagai kufur. Kembali Ibnu ‘Asyur menjelaskan: “…ketiga kronologi tersebut (maksudnya dalam kalimat abā wa istakbara wa kāna min al-kāfirīn) disebutkan secara berurutan sesuai susunan keberadaan hal-hal yang dimaksud dan itulah dasar utama dalam penyusunan kalimat, hendaknya susunan sebuah kalimat sesuai dengan susunan maksud yang ditunjuk..”. Jadi, munculnya kekafiran iblis terjadi karena ada dua sebab yang dilakukannya, yaitu penolakan (abā) dan sombong (istakbara). Jika kita susun menjadi begini: iblis menolak untuk sujud, dan penolakan itu menyebabkan sikap sombong, penolakan dan sikap sombong itu menyebabkan iblis menjadi kafir.
Penolakan iblis menjadi penyebab kesombongannya dan bukan sebaliknya, karena sombong itu sendiri adalah akhlak. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya menegaskan bahwa sombong (al-kibr) merupakan akhlak karena dia muncul diawali dengan sikap-sikap yang membentuk kesombongan, sikap-sikap itu (oleh si pelakunya) diyakini benar dan menenangkan. Nah keyakinan dan perasaan tenang dengan sikap itulah yang disebut sebagai etika sombong. Maka materi dasar tubuh iblis menyebabkan dia bersikap sombong terhadap “ketanahan” Nabi Adam, dan akhirnya dari sana terbentuklah akhlaq al-kibrnya.
Dari peristiwa ini, dengan gamblang kita dapat mengenal seperti apakah sebenarnya kekufuran itu dan penyebabnya. Ibnu mas’ud menceritakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda (yang maknanya): “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya masih terdapat sebiji sawi dari (akhlak) kibr…” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).
Sementara dalam sisi kehidupan yang lain, klaim takfir masih sering terjadi hanya karena persoalan kreativitas dan warna-warni perbedaan pemahaman yang masih dapat dirujuk kembali kedalam pilar-pilar agama, dan bahkan memiliki dukungan para ulama. Padahal fitrah akal itu ya memahami apa saja yang dijangkaunya, dengan metode dan cara yang didapatkannya. Dan seiring perkembangan zaman, “kreasi” akal pun ikut berkembang. Tidak dielakkan, yang namanya bid’ah pasti muncul dan jelas ada. Tapi sebenarnya lebih layak mana antara mengkafirkan seseorang dengan dasar bid’ah yang belum tentu sesat, dibandingkan dengan dasar sifat sombong dan takabur?
Padahal bid’ah sendiri masih dipahami secara berbeda-beda oleh ulama kita, sedangkan Allah sendiri sudah jelas mengafirkan iblis karena akhlaq al-kibrnya. Soal beda pemahaman sudah banyak contohnya dimasa Rasulullah. Diantaranya cerita Ibn ‘Umar: “Saat beliau (dan para sahabat) pulang dari perang al-Ahzab bersabda: ‘Siapapun jangan melakukan shalat ‘ashr kecuali di perkampungan Bani Quraidhah nanti’. Dan beberapa sahabat pun menjumpai waktu ‘ashr di tengah jalan, sebagian mereka mengatakan: ‘kita tidak boleh shalat (‘ashr) hingga kita sampai di Bani Quraidhah’. Sebagian mereka lagi ada yang mengatakan: ‘justru kita harus shalat (sekarang), beliau tidak memaksudkan hal itu (mesti shalat ‘ashr di Bani Quraidhah) kepada kita’. Lalu kejadian tadi dilaporkan kepada Rasulullah dan beliau tidak menyalahkan siapa pun”.
Rifa’ah ibn Rafi’ juga pernah cerita: “Aku pernah shalat dibelakang Rasulullah, aku pun bersin dan aku mengucap: ‘alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Lalu saat Rasulullah selesai shalat beliau menoleh ke belakang dan Tanya: ‘siapa itu tadi yang mengucap pas sedang shalat?’. Tidak ada yang berani menjawab. Beliau Tanya lagi: ‘siapa itu tadi yang bicara pas sedang shalat?’. Rifa’ah ibn Rafi’ menjawab (ini kalimat perawi hadits): ‘saya yang bicara, Rasul’. Beliau Tanya lagi: ‘kamu biacara apa tadi?’. Rifa’ah berkata: ‘Aku mengatakan alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Beliau pun bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada pada kekuasaanNya, tadi itu – sekitar – tigapuluh lebih malaikat saling berebut cepat-cepat mengangkat dzikir tersebut (ke atas sana)’. Menurut at-Tirmidzi ini hadits ħasan.
Ya, karena kecintaan dan rasa rendah hati para shahabat, mereka tidak segan-segan untuk menambah kebaikan. Mungkin saja, kalau ada yang meniru sahabat Rifa’ah di zaman kita ini, apalagi di kampung halaman kita, pasti dia sudah di persalahkaan dan disebut macam-macam. Jadi, disamping mereka sangat ‘kreatif’ dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, mereka juga rendah hati, tidak mudah menuduh kufur kecuali berkaitan dengan penyelewengan dalam soal akidah (ma’lūm min addīn bi addharūrah). Hingga setelah Rasulullah tiada, dan kasus-kasus perpecahan banyak terjadi, dan klaim takfir sudah muncul saat itu.
Suatu saat Imam Ali ibn Abi Thalib r.a. ditanyai soal kelompok-kelompok dalam Islam, “Apakah mereka itu kafir?”. Beliau menjawab: “Oh Tidak, mereka malah menjauhi kekafiran kok”. Ditanya lagi “Mereka munafikkah?”. Beliau menjawab: “Orang-orang munafik itu jarang sekali mengingat Allah, lha sedangkan mereka sering sekali mengingat Allah”. Dan ditanya lagi “Lha terus mereka itu apa dong?”. Beliau menjawab: “Mereka adalah kelompok yang sedang terprovokasi, sehingga mereka menjadi buta dan tuli”, maksudnya tidak mampu melihat dan mendengar hal yang benar dengan sebaik-baiknya. (Diceritakan dalam kitab Mafahim yajib an-tushoħħah)
Dari shabat Anas r.a. Rasulullah saw. Bersabda: “Ada tiga yang termasuk pilar keimanan: menjaga (sikap) diri dari orang yang mengatakan Lā ilāha illa Allāh, kita tidak mengafirkannya sebab perbuatan dosanya dan kita tidak mengeluarkannya dari Islam karena (suatu) amalan. Kemudian berjihad sejak Aku di utus oleh Allah sampai nanti generasi terakhir umatku menghancurkan Dajjal, tidak dipangaruhi oleh kejahatan siapa pun dan keadilan siapa pun. Kemudian beriman kepada ketentuan-ketentuan (Allah)”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Jadi, - mungkin - bisa kita ambil kesimpulan, bahwa tidak mesti setiap bid’ah menyebabkan kufur, akan tetapi justru setiap bentuk kesombongan (kibr) jelas menyebabkan kufur. Begitukah atau seharusnya seperti itu? Wallahu a’lam.
Kairo, 16 Oktober 2011




[Read more]