Jack Reacher, A Smart Hero?

Posted On // Leave a Comment

Pertama kali melihat file film dengan nama Jack Reacher ini, saya menebak ini adalah sebuah nama. Ya, nama seseorang. Dan saya tebak lagi ini adalah film yang menceritakan penokohan seseorang. Banyak film-film penokohan, dan dalam latar belakang apa saja, dan biasanya dia adalah tokoh yang digambarkan sebagai pahlawan, baik yang bersifat sejarah (nyata) maupun fiksi. Saya pun jadi ingat ada James Bond, tetralogi Bourne, Ernesto Che Guevara, Ip Man, atau film Indonesia sendiri, seperti Wali Songo, Habibie Ainun, Naga Bonar, Rurouni Kenshin dana seterusnya. Banyak film penokohan yang saya tonton yang sudah terlupa.
Tapi yang membuat saya menonton film Jack Reacher ini adalah kekagetan saya, ternyata yang main adalah Tom Cruise. Padahal biasanya Tom ini memainkan film-film tematis, maksudnya film yang judulnya mewakili isi cerita, ya sebut sebut saja yang fenomenal adalah Mission Impossible. Dalam posisi sesenior ini, saya menebak pasti Tom lah yang menjadi Jack Reacher, dan dialah yang menginginkan cerita dalam film ini. atau katakanlah, pasti film ini adalah proyek dia sendiri. Tapi ternyata bukan.
Tom Cruise hanya menokohi saja, tapi dalam latar belakang dan skenario yang berbeda dan tidak biasa. Bukan seperti dalam film James Bond atau bahkan Batman, Superman dan pahlawan-pahlawan lain yang berjasa karena menumpas musuh dalam medan pertempuran. Penggambaran film Jack Reacher ini sangat manusiawi dan seolah nyata. Jack Reacher adalah seorang mantan tentara yang cerdas dan menikmati kebebasan dalam hidupnya, sehingga dia merasa tidak terikat oleh apapun. Dalam kehidupan sehari-harinya pun dia tidak tertarik dengan sistem kehidupan formal, bekerja, cari uang, menikah, membangung masa depan, memiliki target hidup, menjadi warga negara yang baik dan taat hukum atau menjadi pegawai negeri yang di masa depannya akan hidup tenang dengan gaji pensiunan.
Meskipun mantan tentara, setelah pensiun, dia tetap seperti anak muda yang senang berpindah-pindah, tidak menyukai kemapanan sandang, papan dan pangan seperti orang pada umumnya. Karena itulah dia tidak tertarik berurusan dengan administrasi sipil. Dia acuh dan tak ingin diganggu, apa lagi dengan urusan hukum. Tapi mengapa dia hadir sebagai pahlawan? Itu karena dia dipanggil untuk datang menolong seorang temannya, dulunya satu batalion, yang dijebak dalam sebuah kasusu pembunuhan.
Hidupnya merasa terusik saat namanya disebut-sebut. Dia pun datang. Dan dengan segenap kecerdasannya, dia menyelsaikan kasus tersebut dan membuktikan bahwa James Barr, temannya itu yang juga seorang snipper hebat, tidak bersalah dan bukan seorang snipper yang membunuh lima warga sipil tak bersalah di tepi sungai. Barr mengatakan, Jack itu “doesn’t care about the law, doesn’t care about proof, he only cares about what is right. He knows what I did…” Ya, dia menumpas orang-orang yang menjebak Barr itu dengan kecerdasan dan kemauan menyelidiki.

Ide cerita yang menarik
Cerita kepahlawanan selalu sama, yang berbeda adalah ide ceritanya. Dan mungkin, sejauh yang saya tahu, Jack Reacher ini memiliki ide cerita yang tidak biasa. Menunjukkan kepahlawanannya dalam sebuah alur cerita yang sangat manusiawi dan biasa terjadi sehari-hari. Kasus, urusan dengan polisi, pengadilan, pengacara dan masyarakat sipil yang baik dan jahat. Alur ceritanya seperti sulit ditebak dan mengandung kejutan-kejutan. Seperti Jack Reacher sendiri yang selalu menemukan fakta-fakta baru dan mengejutkan saat membongkar sebuah kasus. Ya beginilah film detektif, seperti Conan, tapi Reacher bukan detektif.
Lalu apa ide ceritanya? Sebenarnya inti cerita penokohan selalu tidak lari dari kebenaran. Tapi dalam Jack Reacher, kebenaran yang ditampilkan adalah kebenaran yang sudah terkubur dalam sistem hidup bernegara yang absurd dan ambigu. Kebenaran yang selalu menimbun dirinya sendiri karena tidak memiliki kekuasaan otoritas. Menggambarkan negara seperti hutan rimba, padahal para negarawan dan politisi selalu menyuarakan negara adalah bentuk masyarakat madani. Siapa yang kuat dan berada pada kursi otoritas, dia yang menang.
Apalagi sistem hukum dan peradilan yang jumud dan kaku, seperti sistem jual beli dan transaksi saja. Padahal fungsi hukum adalah untuk membuktikan yang benar, bukan untuk menyelesaikan kasus. Tentu berbeda, karena menyelesaikan kasus akan selalu terkait dengan sistem, sedangkan kebenaran tidak tergantung pada sistem. Kebenaran adalah yang benar, bukan yang terbukti, karena bukti bisa dimanipulasi. Dan itu yang diperjuangkan Reacher, ditengah kenyataan hukum (dimana saja) yang bergantung pada sistem, bukan kebenaran itu sendiri.
Dan dimana-mana, institusi kepolisian selalu digambarkan sebagai institusi yang ambigu. Satu sisi, dia adalah penegak hukum, tetapi di sisi lain dia selalu salah menegakkan hukum. Ya, itu tadi, karena sistem hukum yang ada, adalah sistem yang jumud tetapi ambigu. Kepolisian dalam film ini digambarkan malas melakukan penyelidikan, bahkan bersedia bekerjasama dengan si penjahat. Bahkan detektifnya termasuk bagian dari si penjahat.

Keanehan
Well, terutama kasus yang manusiawi seperti ini banyak sekali terjadi di negeri kita, Indonesia. Tetapi aneh, para sineas kita tidak tertarik untuk mengangkat ide-ide cerita seperti ini? Padahal banyak sekali ide-ide cerita semacam ini di surat-surat kabar. Banyak juga orang-orang yang menjadi inspirasi, seperti seorang hakim di suatu daerah yang menjatuhkan hukuman kepada seorang nenek tak berpunya yang terbukti mencuri singkon (atau apa ya, saya lupa). Itu karena sang hakim taat pada SISTEM hukum. Tetapi nuraninya tidak mati, sehingga saat itu juga, dia meminta kepada semua yang hadir dalam persidangan untuk bersedekah demi membayarkan denda secara hukum agar si nenek dibebaskan. Ya, aneh sekali, dan memang aneh sekali.




0 comments:

Post a Comment