Level Hamba Tertinggi Disisi Allah

Posted On // Leave a Comment

level hamba tertinggi disisi allah
from apod-id.com
Dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal disebutkan suatu ketika Rasulullah saw. memberi lima rumus perilaku kepada Abu Hurairah dan para Sahabat lain, salah satu dan yang pertama dari lima rumus tersebut berbunyi “ittaqi al-maarim takun a’bad an-nas”. Artinya, jauhilah larangan-larangan Allah maka engkau menjadi orang yang paling menghamba. Hadis ini juga disebutkan dalam Sunan ibn Majjah dan At-Tirmidzi.
Rasulullah menyebutkan kalimat a’bad an-nas yang berarti orang yang paling menghamba, berasal dari kata ‘ibadah. Makna ibadah sendiri secara umum menurut para ulama adalah semua ucapan dan perilaku lahir batin manusia yang dicintai oleh Allah. Artinya, ketika seseorang menjauhi larangan Allah, saat itulah dia sedang dalam level sebagai orang yang paling menghamba, atau dengan kata lain sedang berada pada amalan ibadah yang paling tinggi derajatnya. Dan itu berarti, menjauhi larangan Allah adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah dari pada amalan ibadah yang lain. Rasulullah juga menjelaskan dalam hadis yang lain bahwa derajat ini sama dengan derajat Nabi Dawud a.s. karena amalan puasanya (puasa dawud).
Tentu ada alasannya mengapa menjauhi larangan Allah (maksiat) lebih tinggi derajatnya dari pada amalan-amalan ibadah yang lain. Pertama, karena orang yang melakukan amalan ibadah seperti shalat, puasa dan lainnya belum tentu terhindar dari perbuatan maksiat. Contohnya, ada orang mampu melaksanakan ibadah haji tapi juga masih berani korupsi dan mencela saudara sendiri.
Kedua, perbuatan maksiat dapat merusak pahala dan faedah amalan ibadah. Meskipun setiap amalan ibadah memiliki faedah dan nilai pahala, akan tetapi faedah dan pahala tersebut bisa hilang karena terganggu oleh maksiat. Banyak perbuatan tak terpuji yang dapat merusak faedah dan pahala ibadah, seperti menyekutukan Allah, zalim atau mencaci seorang muslim.
Ketiga, melakukan maksiat bisa terjadi dalam amalan ibadah dan hal ini juga bisa merusak ibadah itu sendiri atau menghilangkan nilainya. Riya’ (pamer) ketika shalat, sedekah, puasa atau haji juga sering kali terjadi. Mengemban amanat juga salah satu bentuk ibadah, tetapi menyalahgunakan amanat itu sendiri juga sering terjadi saat menjalankannya.
Tapi bukan berarti amalan ibadah lain menjadi tidak penting. Justru, ketika kita menjauhi larangan Allah swt. saat itu juga kita sedang menjalankan perintahNya, yaitu perintah menjalankan kewajiban-kewajiban dan perintah menjauhi larangan-laranganNya. Semoga Allah memudahkan kita semua. Wallahu a’lam.




Nikmatnya Bersilat Lidah Dengan Liberty

Posted On // Leave a Comment

Seorang lelaki berkulit hitam setelah bercakap dengan Liberty, tanpa Liberty tahu siapa sebenarnya si lelaki yang bernama Joe itu, berpikir sejenak untuk melakukan aksi berikutnya. Nafasnya berkali-kali dihelanya dengan berat. Dibalik jendela kaca pada ketinggian puncak sebuah gedung di sekitar taman kota dia melihat keluar bawah tampak sana sangat ramai. Macam-macam kelompok kepolisian dan keamanan sudah menguasai area untuk segera menemukan pelaku teror yang sedang berlangsung.
Dia berpikir, sulit untuk lolos mengingat posisinya sudah begini. Tapi untunglah rekamanan percakapan antara dirinya dengan Liberty tadi sudah ia kirimkan ke sebuah lembaga otoritas. Dia yakin, pasti kasus itu akan ditangani. Dengan sikap tenang, dia acungkan pucuk pistol revolver handgun ke dagunya, mengarah ke atas. Dan dalam satu tarikan ringan jarinya, kepanya sudah ditembus pelurunya. Dia mati. Darahnya yang kental membanjiri lantai. Lalu dalam beberapa detik saja, pasukan SAS sudah mengepung mayatnya yang masih segar itu. Ya, teroris itu sudah mengakhiri hidupnya.

Liberty Stand Still
Itu tadi hanya sepenggal peristiwa terakhir dalam film Liberty Stand Still. Film yang disutradarai Kari Skogland dirilis pada tahun 2002. Buat penggemar film-film action atau penggemar tokoh-tokoh tertentu, genre film ini tidak menarik. Tapi jika kamu suka membaca novel seperti karya Agatha Crhistie atau Sidney Sheldon, kamu akan sangat menikmati film ini. Ya, novel memang cenderung dramatis. Tapi percayalah, kedramatisan Liberty Stand Still tidak sedramatis – misalnya – cerita-cerita dalam film Korea atau seperti telenovella. Liberty Stand Still menyajikan sebuah drama silat lidah yang cerdas dan mengasyikkan.
Pertama, lokasi / setting film 98 persen berada pada satu lokasi. Sebuah taman yang didepannya terdapat gedung teater. Saya tidak tahu nama tempat itu. Bayangkan, 98 persen! Hanya orang-orang itu saja, dan tempat itu saja yang ditampilkan. Tapi justru disinilah menariknya, saya tidak menemukan rasa bosan, bahkan semakin penasaran dari menit ke menit selanjutnya.
Kedua, alur yang tidak mudah dibaca. Meskipun sejak percakapan antara Joe dan Liberty terjadi si lakon sudah bisa ditebak. Tapi, menariknya justru orang yang saya yakini sebagai lakon akhirnya mati, dan orang yang saya kira penjahat malah dibiarkan hidup karena dia sadar dengan dosa-dosanya. Juga alur tersebut tidak dikandalikan oleh bentuk adegan yang berlainan, tetapi dengan pembicaraan. Ya, hanya melalui pembicaraan antara Joe dan Liberty, saya bisa menggambarkan seolah-olah adegan lain dan tokoh lain di tempat lain sedang terjadi. Padahal scene-nya hanya mereka berdua saja.
Ketiga, silat lidah. Joe, seorang kulit hitam warga negara AS adalah mantan anggota militer yang sudah menjalankan banyak misi. Melalui telepon dan bersembunyi dibalik tembok gedung, dia mengadu dan menghakimi Liberty Wallace, istri seorang anggota parlemen Victor Wallace. Ayah Liberty telah meninggal dan mewariskan perusahaan senjata api McCloud. Tapi demi mengembangkan pabrik itu, oleh sang ayah Liberty dinikahkan dengan Victor mengingat posisinya di parlemen. Liberty tidak cinta, dia pun selingkuh dengan seorang pemeran teater, Russell Williams.
Anak perempuan Joe satu-satunya yang masih duduk di SD mati karena menjadi korban penembakan teman sekelasnya. Ternyata pistol yang digunakan adalah produk McCloud. Joe berang dan dendam, dia pun menghakimi McCloud melalui Liberty dengan cara unik. Hanya melalui pembicaraan telepon, Joe mampu memborgol kaki Liberty pada sebuah gerobak sandwich di tengah taman. Dan saat itulah Joe mendebat Liberty, sebuah debat yang akhirnya menyadarkan Liberty tentang keburukan bisnis senjata api. Hebatnya, Liberty sebagai seorang wanita kaya raya, istri pejabat, mudah berkata kotor dan cabul, bisa sadar.
Keempat, ide cerita. Menarik, karena silat lidah itu mengungkap alur cerita yang sebenarnya panjang. Tapi timing peristiwa dalam film tersebut dibuat seperti nyata. Semua percakapan antara Liberty dengan Joe tidaklah memakan waktu hingga setengah hari, tidak ada scene pergantian hari. Yang terjadi, percakapan tersebut berjalan secara realtime, live, seperti kita menonton sepak bola secara live. Dan peristiwa itu pun berakhir pada hari itu juga. Cerita yang dimuat juga realistis. Ini mencontohkan sebuah protes / demontrasi dengan cara unik, tetapi konkrit (its works). Pemrotes berhasil mencapai maksudnya sesuai kapasitas masalahnya, meskipun pada akhirnya dia mati.

Dan akhirnya..
Inti film Liberty Stand Still memang balas dendam. Tapi penilaian saya bukan pada hal ini. Rata-rata film bertemakan balas dendam atau kepahlawanan. Hanya saja cara dan ceritanya berbeda-beda. Liberty Stand Still menawakan sebuah konsep berbeda dalam menuntun cerita serta setting latarnya dalam perfilman. Tapi sungguh, konsep seolah-olah live dan realtime itu yang memang menarik.



Kesombongan Lebih Berbahaya Daripada Bid’ah

Posted On // Leave a Comment

Alkisah (al-Baqarah: 34) dahulu sebelum Allah menciptakan Nabi Adam, iblis berada pada satu “lingkungan” dengan para malaikat. Karena satu kawasan itulah maka iblis pun mampu berbuat taat seperti halnya para malaikat. Dia dapat menghamba kepada Allah layaknya mereka menyembah-Nya. Hingga suatu saat Allah pun menciptakan Adam, kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepadanya. Saat itulah iblis menolak mentah-mentah, seraya berdalih bahwa dia lebih baik dari Adam karena materi tubuh iblis lebih baik dari pada materi tubuh Adam.
Dan sejak itulah Allah mengutuk iblis dan men-cap dia sebagai makhluk kafir. Ya, sekali lagi, kafir. Bahkan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir-nya menegaskan bahwa penggunaan rangkaian kalimat wakāna minal kāfirin menunjukkan kufurnya iblis itu kufur yang sangat parah, karena penggunaan kata kerja kāna dalam susunan seperti ini menunjukkan makna khobarnya (yakni sifat kufur) sangat menancap kuat dalam ismnya (yakni sang iblis). Dan karena kufur yang sangat akut itulah iblis dipastikan untuk menjadi penghuni neraka.
Mengapa kok iblis sampai di kafirin oleh Allah? Ada beberapa premis untuk sampai kepada jawabannya. Pertama, hakekat iblis. Mayoritas ulama – sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab tafsir – menggolongkan iblis dalam kelompok malaikat, dia sebangsa dengan para malaikat itu, karena titah Allah ditujukan kepada mereka, dan secara tekstual ayat al-Qur’an menunjukkan iblis adalah sebangsa dengan mereka. Sedangkan minoritas menyatakan bahwa iblis sebangsa dengan jin, karena ungkapan yang jelas dalam surah al-Kahfi: 50 dan pengakuan iblis sendiri tentang asal-usulnya dalam surah al-A’raf: 12. Qotadah dalam Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa iblis mengklaim dirinya berasal dari api dan dia (Adam) dari tanah.
Akan tetapi secara gamblang Ibnu ‘Asyur menjelaskan kebenaran pendapat kedua bahwa pengecualian pada ayat: 34 surah al-Baqarah tersebut adalah pengecualian tak sejenis (istisna’ munqothi’), kata Ibnu ‘Asyur: “…(si iblis termasuk dalam bangsa jin) – al-Kahfi: 50 – akan tetapi Allah dengan kehendak-Nya menjadikan kondisi kehidupannya (ahwal) layaknya jiwa malaikat yang dapat menutupi tabiat aslinya agar memungkinkan dia bergaul selingkungan dengan mereka..”. Karena iblis diberi kemampuan untuk selingkungan dengan malaikat, dia pun dapat mengikuti “kegiatan” mereka. Akan tetapi saat para malaikat dengan tulus ikhlas sujud kepada Adam atas titah Allah, iblis justru sebaliknya, watak aslinya muncul dan meruntuhkan dinding ahwal yang membuatnya bisa bergaul dengan malaikat itu. Iblis menjadi makhluk lain di tengah-tengah kerumunan para malaikat.
Kedua, watak asli tersebut mendorong iblis untuk menolak titah Allah dan dia pun menjadi sombong (takabbur). Akhirnya sikap itulah yang dinilai Allah sebagai kufur. Kembali Ibnu ‘Asyur menjelaskan: “…ketiga kronologi tersebut (maksudnya dalam kalimat abā wa istakbara wa kāna min al-kāfirīn) disebutkan secara berurutan sesuai susunan keberadaan hal-hal yang dimaksud dan itulah dasar utama dalam penyusunan kalimat, hendaknya susunan sebuah kalimat sesuai dengan susunan maksud yang ditunjuk..”. Jadi, munculnya kekafiran iblis terjadi karena ada dua sebab yang dilakukannya, yaitu penolakan (abā) dan sombong (istakbara). Jika kita susun menjadi begini: iblis menolak untuk sujud, dan penolakan itu menyebabkan sikap sombong, penolakan dan sikap sombong itu menyebabkan iblis menjadi kafir.
Penolakan iblis menjadi penyebab kesombongannya dan bukan sebaliknya, karena sombong itu sendiri adalah akhlak. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya menegaskan bahwa sombong (al-kibr) merupakan akhlak karena dia muncul diawali dengan sikap-sikap yang membentuk kesombongan, sikap-sikap itu (oleh si pelakunya) diyakini benar dan menenangkan. Nah keyakinan dan perasaan tenang dengan sikap itulah yang disebut sebagai etika sombong. Maka materi dasar tubuh iblis menyebabkan dia bersikap sombong terhadap “ketanahan” Nabi Adam, dan akhirnya dari sana terbentuklah akhlaq al-kibrnya.
Dari peristiwa ini, dengan gamblang kita dapat mengenal seperti apakah sebenarnya kekufuran itu dan penyebabnya. Ibnu mas’ud menceritakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda (yang maknanya): “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya masih terdapat sebiji sawi dari (akhlak) kibr…” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).
Sementara dalam sisi kehidupan yang lain, klaim takfir masih sering terjadi hanya karena persoalan kreativitas dan warna-warni perbedaan pemahaman yang masih dapat dirujuk kembali kedalam pilar-pilar agama, dan bahkan memiliki dukungan para ulama. Padahal fitrah akal itu ya memahami apa saja yang dijangkaunya, dengan metode dan cara yang didapatkannya. Dan seiring perkembangan zaman, “kreasi” akal pun ikut berkembang. Tidak dielakkan, yang namanya bid’ah pasti muncul dan jelas ada. Tapi sebenarnya lebih layak mana antara mengkafirkan seseorang dengan dasar bid’ah yang belum tentu sesat, dibandingkan dengan dasar sifat sombong dan takabur?
Padahal bid’ah sendiri masih dipahami secara berbeda-beda oleh ulama kita, sedangkan Allah sendiri sudah jelas mengafirkan iblis karena akhlaq al-kibrnya. Soal beda pemahaman sudah banyak contohnya dimasa Rasulullah. Diantaranya cerita Ibn ‘Umar: “Saat beliau (dan para sahabat) pulang dari perang al-Ahzab bersabda: ‘Siapapun jangan melakukan shalat ‘ashr kecuali di perkampungan Bani Quraidhah nanti’. Dan beberapa sahabat pun menjumpai waktu ‘ashr di tengah jalan, sebagian mereka mengatakan: ‘kita tidak boleh shalat (‘ashr) hingga kita sampai di Bani Quraidhah’. Sebagian mereka lagi ada yang mengatakan: ‘justru kita harus shalat (sekarang), beliau tidak memaksudkan hal itu (mesti shalat ‘ashr di Bani Quraidhah) kepada kita’. Lalu kejadian tadi dilaporkan kepada Rasulullah dan beliau tidak menyalahkan siapa pun”.
Rifa’ah ibn Rafi’ juga pernah cerita: “Aku pernah shalat dibelakang Rasulullah, aku pun bersin dan aku mengucap: ‘alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Lalu saat Rasulullah selesai shalat beliau menoleh ke belakang dan Tanya: ‘siapa itu tadi yang mengucap pas sedang shalat?’. Tidak ada yang berani menjawab. Beliau Tanya lagi: ‘siapa itu tadi yang bicara pas sedang shalat?’. Rifa’ah ibn Rafi’ menjawab (ini kalimat perawi hadits): ‘saya yang bicara, Rasul’. Beliau Tanya lagi: ‘kamu biacara apa tadi?’. Rifa’ah berkata: ‘Aku mengatakan alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Beliau pun bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada pada kekuasaanNya, tadi itu – sekitar – tigapuluh lebih malaikat saling berebut cepat-cepat mengangkat dzikir tersebut (ke atas sana)’. Menurut at-Tirmidzi ini hadits ħasan.
Ya, karena kecintaan dan rasa rendah hati para shahabat, mereka tidak segan-segan untuk menambah kebaikan. Mungkin saja, kalau ada yang meniru sahabat Rifa’ah di zaman kita ini, apalagi di kampung halaman kita, pasti dia sudah di persalahkaan dan disebut macam-macam. Jadi, disamping mereka sangat ‘kreatif’ dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, mereka juga rendah hati, tidak mudah menuduh kufur kecuali berkaitan dengan penyelewengan dalam soal akidah (ma’lūm min addīn bi addharūrah). Hingga setelah Rasulullah tiada, dan kasus-kasus perpecahan banyak terjadi, dan klaim takfir sudah muncul saat itu.
Suatu saat Imam Ali ibn Abi Thalib r.a. ditanyai soal kelompok-kelompok dalam Islam, “Apakah mereka itu kafir?”. Beliau menjawab: “Oh Tidak, mereka malah menjauhi kekafiran kok”. Ditanya lagi “Mereka munafikkah?”. Beliau menjawab: “Orang-orang munafik itu jarang sekali mengingat Allah, lha sedangkan mereka sering sekali mengingat Allah”. Dan ditanya lagi “Lha terus mereka itu apa dong?”. Beliau menjawab: “Mereka adalah kelompok yang sedang terprovokasi, sehingga mereka menjadi buta dan tuli”, maksudnya tidak mampu melihat dan mendengar hal yang benar dengan sebaik-baiknya. (Diceritakan dalam kitab Mafahim yajib an-tushoħħah)
Dari shabat Anas r.a. Rasulullah saw. Bersabda: “Ada tiga yang termasuk pilar keimanan: menjaga (sikap) diri dari orang yang mengatakan Lā ilāha illa Allāh, kita tidak mengafirkannya sebab perbuatan dosanya dan kita tidak mengeluarkannya dari Islam karena (suatu) amalan. Kemudian berjihad sejak Aku di utus oleh Allah sampai nanti generasi terakhir umatku menghancurkan Dajjal, tidak dipangaruhi oleh kejahatan siapa pun dan keadilan siapa pun. Kemudian beriman kepada ketentuan-ketentuan (Allah)”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Jadi, - mungkin - bisa kita ambil kesimpulan, bahwa tidak mesti setiap bid’ah menyebabkan kufur, akan tetapi justru setiap bentuk kesombongan (kibr) jelas menyebabkan kufur. Begitukah atau seharusnya seperti itu? Wallahu a’lam.
Kairo, 16 Oktober 2011




Jack Reacher, A Smart Hero?

Posted On // Leave a Comment

Pertama kali melihat file film dengan nama Jack Reacher ini, saya menebak ini adalah sebuah nama. Ya, nama seseorang. Dan saya tebak lagi ini adalah film yang menceritakan penokohan seseorang. Banyak film-film penokohan, dan dalam latar belakang apa saja, dan biasanya dia adalah tokoh yang digambarkan sebagai pahlawan, baik yang bersifat sejarah (nyata) maupun fiksi. Saya pun jadi ingat ada James Bond, tetralogi Bourne, Ernesto Che Guevara, Ip Man, atau film Indonesia sendiri, seperti Wali Songo, Habibie Ainun, Naga Bonar, Rurouni Kenshin dana seterusnya. Banyak film penokohan yang saya tonton yang sudah terlupa.
Tapi yang membuat saya menonton film Jack Reacher ini adalah kekagetan saya, ternyata yang main adalah Tom Cruise. Padahal biasanya Tom ini memainkan film-film tematis, maksudnya film yang judulnya mewakili isi cerita, ya sebut sebut saja yang fenomenal adalah Mission Impossible. Dalam posisi sesenior ini, saya menebak pasti Tom lah yang menjadi Jack Reacher, dan dialah yang menginginkan cerita dalam film ini. atau katakanlah, pasti film ini adalah proyek dia sendiri. Tapi ternyata bukan.
Tom Cruise hanya menokohi saja, tapi dalam latar belakang dan skenario yang berbeda dan tidak biasa. Bukan seperti dalam film James Bond atau bahkan Batman, Superman dan pahlawan-pahlawan lain yang berjasa karena menumpas musuh dalam medan pertempuran. Penggambaran film Jack Reacher ini sangat manusiawi dan seolah nyata. Jack Reacher adalah seorang mantan tentara yang cerdas dan menikmati kebebasan dalam hidupnya, sehingga dia merasa tidak terikat oleh apapun. Dalam kehidupan sehari-harinya pun dia tidak tertarik dengan sistem kehidupan formal, bekerja, cari uang, menikah, membangung masa depan, memiliki target hidup, menjadi warga negara yang baik dan taat hukum atau menjadi pegawai negeri yang di masa depannya akan hidup tenang dengan gaji pensiunan.
Meskipun mantan tentara, setelah pensiun, dia tetap seperti anak muda yang senang berpindah-pindah, tidak menyukai kemapanan sandang, papan dan pangan seperti orang pada umumnya. Karena itulah dia tidak tertarik berurusan dengan administrasi sipil. Dia acuh dan tak ingin diganggu, apa lagi dengan urusan hukum. Tapi mengapa dia hadir sebagai pahlawan? Itu karena dia dipanggil untuk datang menolong seorang temannya, dulunya satu batalion, yang dijebak dalam sebuah kasusu pembunuhan.
Hidupnya merasa terusik saat namanya disebut-sebut. Dia pun datang. Dan dengan segenap kecerdasannya, dia menyelsaikan kasus tersebut dan membuktikan bahwa James Barr, temannya itu yang juga seorang snipper hebat, tidak bersalah dan bukan seorang snipper yang membunuh lima warga sipil tak bersalah di tepi sungai. Barr mengatakan, Jack itu “doesn’t care about the law, doesn’t care about proof, he only cares about what is right. He knows what I did…” Ya, dia menumpas orang-orang yang menjebak Barr itu dengan kecerdasan dan kemauan menyelidiki.

Ide cerita yang menarik
Cerita kepahlawanan selalu sama, yang berbeda adalah ide ceritanya. Dan mungkin, sejauh yang saya tahu, Jack Reacher ini memiliki ide cerita yang tidak biasa. Menunjukkan kepahlawanannya dalam sebuah alur cerita yang sangat manusiawi dan biasa terjadi sehari-hari. Kasus, urusan dengan polisi, pengadilan, pengacara dan masyarakat sipil yang baik dan jahat. Alur ceritanya seperti sulit ditebak dan mengandung kejutan-kejutan. Seperti Jack Reacher sendiri yang selalu menemukan fakta-fakta baru dan mengejutkan saat membongkar sebuah kasus. Ya beginilah film detektif, seperti Conan, tapi Reacher bukan detektif.
Lalu apa ide ceritanya? Sebenarnya inti cerita penokohan selalu tidak lari dari kebenaran. Tapi dalam Jack Reacher, kebenaran yang ditampilkan adalah kebenaran yang sudah terkubur dalam sistem hidup bernegara yang absurd dan ambigu. Kebenaran yang selalu menimbun dirinya sendiri karena tidak memiliki kekuasaan otoritas. Menggambarkan negara seperti hutan rimba, padahal para negarawan dan politisi selalu menyuarakan negara adalah bentuk masyarakat madani. Siapa yang kuat dan berada pada kursi otoritas, dia yang menang.
Apalagi sistem hukum dan peradilan yang jumud dan kaku, seperti sistem jual beli dan transaksi saja. Padahal fungsi hukum adalah untuk membuktikan yang benar, bukan untuk menyelesaikan kasus. Tentu berbeda, karena menyelesaikan kasus akan selalu terkait dengan sistem, sedangkan kebenaran tidak tergantung pada sistem. Kebenaran adalah yang benar, bukan yang terbukti, karena bukti bisa dimanipulasi. Dan itu yang diperjuangkan Reacher, ditengah kenyataan hukum (dimana saja) yang bergantung pada sistem, bukan kebenaran itu sendiri.
Dan dimana-mana, institusi kepolisian selalu digambarkan sebagai institusi yang ambigu. Satu sisi, dia adalah penegak hukum, tetapi di sisi lain dia selalu salah menegakkan hukum. Ya, itu tadi, karena sistem hukum yang ada, adalah sistem yang jumud tetapi ambigu. Kepolisian dalam film ini digambarkan malas melakukan penyelidikan, bahkan bersedia bekerjasama dengan si penjahat. Bahkan detektifnya termasuk bagian dari si penjahat.

Keanehan
Well, terutama kasus yang manusiawi seperti ini banyak sekali terjadi di negeri kita, Indonesia. Tetapi aneh, para sineas kita tidak tertarik untuk mengangkat ide-ide cerita seperti ini? Padahal banyak sekali ide-ide cerita semacam ini di surat-surat kabar. Banyak juga orang-orang yang menjadi inspirasi, seperti seorang hakim di suatu daerah yang menjatuhkan hukuman kepada seorang nenek tak berpunya yang terbukti mencuri singkon (atau apa ya, saya lupa). Itu karena sang hakim taat pada SISTEM hukum. Tetapi nuraninya tidak mati, sehingga saat itu juga, dia meminta kepada semua yang hadir dalam persidangan untuk bersedekah demi membayarkan denda secara hukum agar si nenek dibebaskan. Ya, aneh sekali, dan memang aneh sekali.




Snitch Potret Kepedulian Yang Realistis

Posted On // Leave a Comment

Snitch, Dwayne Johnson
Scene transaksi kokain
Beruntung juga saya mendapatkan film Snitch ini. Lagi-lagi dengan tidak memperdulikan bagaimana file film ini didapatkan, saya tetap enjoy menontonnya dengan tanpa rasa berdosa sedikitpun (hehehe). Kata ‘snitch’ setelah saya dapati di kamus, bermakna Indonesia ‘mengadu’ ‘komplain’.  Setelah saya tonton hingga selesai, ternyata saya tegaskan keberuntungan saya menonton film semacam ini. Ini film yang menurut selera saya adalah film yang realistis.
Realistis itu selalu bagus, menurut saya. Mengapa film ini bagus? Sebenarnya mengejutkan juga Dwayne Johnson (pensuinan The Rock) yang menjadi lakonnya, mengingat aksi-aksi dalam film ini tidak seperti dalam film-film superhero. Dwayne yang memerankan John Matthews digambarkan sebagai manusia biasa, seorang ayah, seorang pemilik perusahaan material. Dia hidup dalam lingkungan biasa seperti kita, yang sehari-hari bekerja untuk mencari nafkah.
Tapi, dia terpaksa harus menjalani sebuah alur cerita yang menarik dan hebat. Snitch merupakan kata yang mewakili apa yang dia lakukan dalam alur cerita tersebut. Dia terpaksa harus “mengadu”, entah mengadu nasib atau mengadu kepada sebuah ketidakadilan. Pengaduan yang dilakukannya semata-mata karena kepeduliannya terhadap orang-orang yang dicintainya.

Alur Singkat
Seorang anak muda bernama Jason Collins berusia sekitar 20 tahun dirayu teman akrabnya via vedio chat untuk menerima paket barisi pil narkoba. Si teman merayu agar Jason sesekali mencoba pil tersebut., padahal Jason menolak. Tapi keburu Ibu Jason Sylvie Collins datang dan komunikasi pun ditutup. Sang ibu pergi lagi setelah mengangkat telepon. Dan secepat kilat paket pun datang. Mau tidak mau, Jason harus menerimanya.
Saat dibuka dikamar, betapa kagetnya dibawah bungkus pil tersebut terdapat sebuah radio sinyal yang sudah dipasang polisi. Seketika Jason sadar, dia pun melarikan melalui jendela kamar. Sekencang dia lari, polisi penyergap berpakaian preman yang jumlahnya puluhan tetap bisa menangkapnya. Parahnya lagi, Jason divonis hukuman 10 tahun. Kepada ibu Jason dan ayahnya (John Matthews), sang pengacara menjelaskan bahwa Jason dikenakan hukuman minimum karena praktek pengiriman pil narkoba. Apa yang dialami Jason itu adalah sebuah program mandat pemerintah federal untuk “menelusuri” trafiking narkoba dari satu pengedar ke pengedar lain, bertujuan agar sampai kepada pengedar pusat.
Sebenarnya, Jason dikenai masa hukuman lebih dari 10 tahun, tetapi oleh kepolisian dia diminta persetujuannya untuk membantu pemerintah membeberkan link pengedar lainnya. Karena persetujuannya itu maka Jason hanya dikenai 10 tahun dan tidak bisa kurang. Celakanya, Jason hanya mengenal sahabat yang mengirim paket tersebut, dia tidak tahu pengedar lainnya. Persaan hancur benar-benar dirasakan oleh keluarga yang telah pisah tersebut. Ya, John sudah bercerai dengan Sylvie tapi hak asuh Jason dimenangkan oleh sang ibu. John kini sudah berkeluarga lagi dan memiliki satu anak perempuan yang masih kecil.
Meskipun demikian, John tidak bisa membiarkan musibah ini begitu saja. Berbagai cara dipikirkan untuk membebaskan kasus Jason yang benar-benar tidak masuk akal ini. Bermula dari nekatnya John menemui Pemimpin Kejaksaan pemerintah pusat, Joanne Keeghan, Agent Cooper (tim buru sergap), Daniel James (mantan pengedar yang tobat dan menjadi karyawan John), semua usaha John untuk membongkar gembong narkoba  - yang dipimpin oleh Juan Carlos Pintera, seorang eks militer Meksiko – dilakukan. Hingga akhirnya Jason bebas seketika itu juga.

Sebuah Kenyataan
Produk hukum yang bernama federal mandatory minimum sentencing laws diproduksi oleh Komisi Hukuman AS berdasarkan Undang-undang Reformasi Hukuman tahun 1984. Dalam film Snitch produk hukum ini diterapkan dalam kasus pengedaran narkoba. Hanya saja, penerapannya dimodifikasi menjadi seperti dalam kasus Jason. Jika diamati, memang hukuman untuk Jason sangat merugikan pihak Jason sendiri. Mengingat secara bukti, Jason melakukan transaksi hanya sekali saja. Itupun dia hanya sebagai penerima (seolah-olah konsumer) bukan pengedar. Hukuman 10 tahun penjara sendiri di Indonesia diterapkan sebagai hukuman maksimal untuk orang yang membawa, mengangkut, mengirim atau mentransaksikan narkoba dengna berat lebih dari 5 gram.
Dan ketika John komplain kepada Joanne tentang kegilaan ini, dan Joanne tidak bisa dan tidak mau mengurangi hukuman Jason, John menjadi sangat kesal. Dalam permainan ini, pemerintah memang sengaja ingin melibatkan rakyat sipil, meskipun disisi lain bertujuan untuk menakuti mereka agar tidak coba main-main dengan narkoba. Secara ideal, produk hukum ini sangat protektif dan sangat membuat jera.
Akan tetapi, Snitch menggambarkan bahwa produk hukum ini tidak sebanding dengan kinerja kepolisian. Ketika Jason – misalnya – dipenjara selama itu, belum tentu pengedaran narkoba akan segera terhenti, karena gembong pusatnya masih eksis. Ini menunjukkan, betapa pihak kepolisian hanya menunggu, dan enggan melakukan inisiatif sendiri.
Demi putranya itu, John pun nekat masuk dalam permainan gembong narkoba yang berbahaya itu. Dia rela menjadi informan, dengan penyamaran. Resikonya adalah keluarganya sendiri. Dan resiko itu pun dia jumpai ketika gembong mengetahui bahwa John sebenarnya sedang mencari informasi ketua gembongnya. Tapi, John bersikap sabar dan mampu menahan diri karena ketika gembong sudah mengetahui siapa istri dan anaknya, itu menandakan John hampir saja gagal.

Kepedulian yang ambigu?
Kepedulian John kepada keluarganya itu sangat besar. Didepan Jason, dia menyesal karena meninggalkannya dan ibunya, demi membangun keluarga baru. Dia menyesal telah menelantarkan putranya itu di masa kecil, dan hanya fokus terhadap pekerjaan, siang dan malam tanpa henti. Dan ketika Jason tertimpa kasus berat, John hanya menyesal. Tapi kasus tersebut justru menumbuhkan ‘keayahan’ John sehingga dia mampu membayar sedikit dari penyesalannya.
Disisi lain, sebenarnya pemerintah peduli kepada rakyatnya. Tetapi kenyataannya, hingga akhir cerita, John lah yang berhasil mengungkap pemimpin gembong tersebut. Meski sampai berdarah-darah dan terluka. Dia rela menjadi umpan, dan kepolisian hanya bertugas menarik kailnya? Anda bisa bayangkan, betapa sakitnya menjadi umpan. Sementara pengail hanya menarik saja, jika tidak dapat, lukanya hanya sebatas rasa kecewa.
Itu karena pihak pemerintah tidak memiliki jiwa seorang pribadi, seperti John memiliki jiwa kepribadiannya sendiri sebagai seorang ayah. Individu-individu yang duduk dikursi pemerintahan masih memiliki jiwa kepribadian mereka sendiri-sendiri, sehingga mereka hanya merasa sebagai pejabat, hakim, jaksa yang fokus pada fungsi formalitas saja. Mereka enggan berperan lebih dari itu. Padahal setiap hukum ada sisi tekstualitas dan kontekstulitas. Jika hukum menghukum Jason sedemikian berat sesuai teks, mestinya hukum juga memahami bahwa Jason bukan pengedar dan pemakai. Hukum juga bekerja secara kontekstual untuk membereskan pengedar sebenarnya. Dan kenyataannya Jason hanya dijebak oleh hukum itu sendiri.

Akhirnya…
Film Snitch terasa dekat sekali dengan realitas, kehidupan sehari-hari. Disana, John mencontohkan sebuah usaha yang sebenarnya dalam menyelesaikan masalah yang menimpa. Kausalitas materialistik (akibat yang terjadi oleh sebab yang tampak) dalam aksi-aksi John sangat penuh, sehingga kesuksesan John ini hamper tidak ada faktor kebetulan atau keajaibannya. Selagi bisa, berusahalah..!