Sarjana Itupun Mati Tanpa Gelar Dan Peradabannya

Posted On // Leave a Comment
Emile Hirsch sebagai McCandless
Teman yang memberi file film yang berjudul Into The Wild ini bilang, ini film bagus. Itu saja, entah bagus dari segi mana, gambarannya seperti apa. Bagus saja. Ketika saya lihat durasinya sekitar 2 jam 28 menit, cukup kaget juga. Cukup panjang juga, seperti durasi film layar lebar Cina saja. Film yang berdurasi lebih dari dua jam biasanya berusaha menceritakan secara tuntas dan lengkap. Tidak tergesa-gesa. Jadi logikanya memang seharusnya bagus, sebab kalau tidak bagus, durasi lebih dari dua jam akan menyia-nyiakan tenaga dan biaya pembuatannya.
Into The Wild, membaca judulnya saya membayangkan film ini menceritakan keganasan dan kekerasan. Dan ternyata film ini menceritakan sebuah penggalan pengalaman problematik seorang Sarjana. Yang pada suatu fase dalam hidupnya memilih berjalan pada jalur yang keras dan kejam. Bukan kejam seperti zombie atau tukang jagal. Tapi kejam dan kerasnya hidup menyatu dengan alam.

Sepenggal kisah
Yang menarik adalah, tokoh dalam film ini adalah seorang sarjana. Ia bernama Chris McCandless. Seorang sarjana yang setelah wisuda di Emory University mengatakan kepada ayah dan ibunya akan melanjutkan kuliahnya di jurusan hukum Harvard University. Tapi betapa mengejutkannya, setelah itu dia pamit kepada bapak kosnya untuk pergi tanpa memberitahu kemana. Dia sudah menyiapkan segalanya. Pergi membawa mobil bututnya menuju entah kemana tanpa tujuan. Dalam batin dia mengutarakan keinginan kuatnya menjauhkan diri dari “history, pressure, law, and irks some applications,” dan “absolute freedom”.
Hingga disebuah tempat mobilnya terdampar dan terhantam bah, dia pun meninggalkannya disana, membakar uang yang dibawanya. Jadilah dia Leather Tramp, julukan untuk petualang yang berjalan kaki. Dia pun mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp. Dengan membawa perlengkapan di tas ransel dia berjalan terus entah menuju kemana, tanpa tujuan yang diniatkannya. Dia pun bertemu dengan banyak para petualang lain seperti dirinya, tapi kebanyakan menggunakan mobil. Alex berbagi cerita dengan mereka. Yang menyedihkan dari cerita Alex adalah bahwa masalahnya berawal dari keluarga.
Ayah dan ibunya yang menyebabkan Alex pergi tanpa tujuan. Menurutnya, hubungan ayah dan ibunya itu adalah hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Karena ayahnya yang menjadi pejabat di NASA menikahi ibunya sebagai wanita simpanan. Sering terjadi bahwa pernikahan seperti ini rentan dengan ketidakharmonisan. Alex sering melihat mereka berdua bertengkar hebat. Akibatnya, Alex dan adik perempuannya satu-satunya, Billie McCandless, menjadi tidak nyaman dirumah.
Menurut Alex, pelarian ini dia lakukan untuk menghukum ayah dan ibunya. Meski mereka adalah orang tua yang berusaha mencukupi kebutuhan anak-anak, dan meski Alex adalah sarjana yang pintar. Dan benar, ayah dan ibunya merasa kehilangan. Billie pun merekam hari-hari setelah kakaknya minggat dalam buku catatannya.

Pelajaran hidup
Ditengah jalan, Alex tiba-tiba ingin menuju ke Alaska dan menyepi disana. Dijalan, Alex menemukan banyak pelajaran. Bahwa memang orang-orang yang seperti dirinya sedang minggat, meninggalkan problem hidup. Menurut Alex, kesalahan tatanan hidup yang begitu menekan ini harus di hukum dengan minggat. Tanpa uang, KTP, identitas, dan aturan negara atau ikatan-ikatan sosial. Minggat membuatnya bebas tidak terbebani apapun, termasuk ijazah misalnya, atau gelar. Minggat membuatnya menemukan bahwa tidak ada korelasi yang harus antara gelar, ijazah dengan pekerjaan. Toh dia tetap bisa makan dan hidup.
Kepada Franz, seorang tua pensiunan militer yang ditemuinya, dia menyatakan bahwa karir itu penemuan abad 20, dan dia tidak harus berkarir, meskipun dia sarjana. Tapi rupanya kesinisan Alex kepada sistem hidup masa kini hanya alasan yang dia jadikan untuk berkilah dalam rangka membenarkan minggatnya. Kesinisan itu hanya kondisi sesaat saja, karena saat itu dia sedang marah dan kesal.
Terbukti ketika suatu saat rasa rindunya pada adik dan orang tuanya. Baik saat masih di perjalanan maupun ketika sudah di Alaska. Tapi dia mampu menahan rasa rindu karena rasa kesal itu masih ada. Sehingga dia pun benar-benar berani untuk sampai ke Alaska dan menjalani hidup seorang diri didalam sebuah kerangka bus di tengah hutan Alaska untuk beberapa lama.
Hari-harinya di bus lusuh itu dia nikmati dengan kesendirian yang dia namai meninggalkan peradaban. Karena peradaban menurutnya kejam. Saking senangnya, dia pun berteriak-teriak, bermain-main seperti orang yang masa kecilnya kurang bahagia, dan seterusnya. Dia tidak merasa butuh orang lain, karena kesulitan yang dihadapinya disana adalah kenikmatan hidup tanpa peradaban.
Awal sampai di Alaska ketika musim dingin, banyak binatang yang bisa diburunya untuk dimakan. Hingga beberapa bulan datanglah musim panas. Pada sebuah halaman buku yang dia baca, berjudul Family Happiness, Leo Tolstoy menulis tentang bekerja dan berkarir, membuat sesuatu yang berarti dalam hidup, kemudian menikah, beranak dan berkeluarga, lalu istirahat menikmati masa-masa tua, itulah kebahagian. Alex terpengaruh, dan tiba-tiba merasa rindu dengan semua itu. Dia pun bersiap-siap untuk meninggalkan Alaska.
Tapi, ternyata dia terjebak. Sungai yang pernah dilaluinya dalam keadaan membeku di musim dingin itu ternyata besar sekali arusnya, kini dia tidak bisa menyeberang. Dia pun kembali ke bus itu dan meneruskan hidupnya. Tapi hewan-hewan yang bisa di makan tidak lagi ada. Mereka berhijrah. Dia pun terpaksa menjadi vegetarian. Namun malang, dia memakan dedaunan yang salah. Dedauan itu beracun dan mengakibatkan kematian. Tubuhnya sudah tercemari racun dan bingung harus bagaimana membuangnya.
Semakin hari tubuhnya semakin lemas dan lemah. Ditengah-tengah rasa sakit dan bingung. Ketika dengan tubuh yang kurus sudah tidak lagi bertenaga, Alex menuliskan kalimat di dalam buku bacaannya: “happiness only real when shared”. Air matanya menetes melewati pipinya yang pucat. Lalu dia pun menyelimuti tubuhnya dengan tas selimut, seolah sudah tampak akhir hidupnya, Alex berbaring di atas ranjang lusuh di dalam bus itu. Ajalnya pun sampai. Racun itu mengakhiri hidupnya.

Dari kisah nyata
into the wild
Christopher McCandless
Hal lain yang menarik adalah, film ini berdasarkan cerita nyata yang terjadi pada Christopher McCandless (1968 – 1992). Seperti yang dituliskan di Wikipedia, empat bulan kemudian setelah dia menjalani hidup di Alaska, sisa-sisa tubuhnya ditemukan dan beratnya sekitar 30 kg. ia meninggal karena kelaparan dekat Danau Wentitika di Denali National Park and Preserve.
Faktanya, ketika sedang mengalami kondisi yang sangat lemah itu Chris menuliskan catatan peringatan untuk siapapun pengunjung Alaska yang lewat:
"Attention Possible Visitors. S.O.S. I need your help. I am injured, near death, and too weak to hike out. I am all alone, this is no joke. In the name of God, please remain to save me. I am out collecting berries close by and shall return this evening. Thank you, Chris McCandless. August?"
Banyak orang yang menyayangkan kematiannya. Itu karena dia benar-benar nekat menuju Alaska tanpa persediaan dan peralatan yang lengkap. Disisi lain, peringatan yang dia tulis menunjukkan dirinya memang belum siap mati. By the way, sisi menarik ini hanya sekedar diambil inspirasinya saja, bahwa ternyata ada sisi lain dari kehidupan manusia yang sangat luas ini. Tapi, sebaiknya jangan ditiru. Sistem hidup ini memang rumit dan kadang ironis. Tapi  melarikan diri atau minggat itu kan tidak jantan, iya kan?



0 comments:

Post a Comment