Kesombongan Lebih Berbahaya Daripada Bid’ah

Posted On // Leave a Comment

Alkisah (al-Baqarah: 34) dahulu sebelum Allah menciptakan Nabi Adam, iblis berada pada satu “lingkungan” dengan para malaikat. Karena satu kawasan itulah maka iblis pun mampu berbuat taat seperti halnya para malaikat. Dia dapat menghamba kepada Allah layaknya mereka menyembah-Nya. Hingga suatu saat Allah pun menciptakan Adam, kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepadanya. Saat itulah iblis menolak mentah-mentah, seraya berdalih bahwa dia lebih baik dari Adam karena materi tubuh iblis lebih baik dari pada materi tubuh Adam.
Dan sejak itulah Allah mengutuk iblis dan men-cap dia sebagai makhluk kafir. Ya, sekali lagi, kafir. Bahkan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir-nya menegaskan bahwa penggunaan rangkaian kalimat wakāna minal kāfirin menunjukkan kufurnya iblis itu kufur yang sangat parah, karena penggunaan kata kerja kāna dalam susunan seperti ini menunjukkan makna khobarnya (yakni sifat kufur) sangat menancap kuat dalam ismnya (yakni sang iblis). Dan karena kufur yang sangat akut itulah iblis dipastikan untuk menjadi penghuni neraka.
Mengapa kok iblis sampai di kafirin oleh Allah? Ada beberapa premis untuk sampai kepada jawabannya. Pertama, hakekat iblis. Mayoritas ulama – sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab tafsir – menggolongkan iblis dalam kelompok malaikat, dia sebangsa dengan para malaikat itu, karena titah Allah ditujukan kepada mereka, dan secara tekstual ayat al-Qur’an menunjukkan iblis adalah sebangsa dengan mereka. Sedangkan minoritas menyatakan bahwa iblis sebangsa dengan jin, karena ungkapan yang jelas dalam surah al-Kahfi: 50 dan pengakuan iblis sendiri tentang asal-usulnya dalam surah al-A’raf: 12. Qotadah dalam Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa iblis mengklaim dirinya berasal dari api dan dia (Adam) dari tanah.
Akan tetapi secara gamblang Ibnu ‘Asyur menjelaskan kebenaran pendapat kedua bahwa pengecualian pada ayat: 34 surah al-Baqarah tersebut adalah pengecualian tak sejenis (istisna’ munqothi’), kata Ibnu ‘Asyur: “…(si iblis termasuk dalam bangsa jin) – al-Kahfi: 50 – akan tetapi Allah dengan kehendak-Nya menjadikan kondisi kehidupannya (ahwal) layaknya jiwa malaikat yang dapat menutupi tabiat aslinya agar memungkinkan dia bergaul selingkungan dengan mereka..”. Karena iblis diberi kemampuan untuk selingkungan dengan malaikat, dia pun dapat mengikuti “kegiatan” mereka. Akan tetapi saat para malaikat dengan tulus ikhlas sujud kepada Adam atas titah Allah, iblis justru sebaliknya, watak aslinya muncul dan meruntuhkan dinding ahwal yang membuatnya bisa bergaul dengan malaikat itu. Iblis menjadi makhluk lain di tengah-tengah kerumunan para malaikat.
Kedua, watak asli tersebut mendorong iblis untuk menolak titah Allah dan dia pun menjadi sombong (takabbur). Akhirnya sikap itulah yang dinilai Allah sebagai kufur. Kembali Ibnu ‘Asyur menjelaskan: “…ketiga kronologi tersebut (maksudnya dalam kalimat abā wa istakbara wa kāna min al-kāfirīn) disebutkan secara berurutan sesuai susunan keberadaan hal-hal yang dimaksud dan itulah dasar utama dalam penyusunan kalimat, hendaknya susunan sebuah kalimat sesuai dengan susunan maksud yang ditunjuk..”. Jadi, munculnya kekafiran iblis terjadi karena ada dua sebab yang dilakukannya, yaitu penolakan (abā) dan sombong (istakbara). Jika kita susun menjadi begini: iblis menolak untuk sujud, dan penolakan itu menyebabkan sikap sombong, penolakan dan sikap sombong itu menyebabkan iblis menjadi kafir.
Penolakan iblis menjadi penyebab kesombongannya dan bukan sebaliknya, karena sombong itu sendiri adalah akhlak. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya menegaskan bahwa sombong (al-kibr) merupakan akhlak karena dia muncul diawali dengan sikap-sikap yang membentuk kesombongan, sikap-sikap itu (oleh si pelakunya) diyakini benar dan menenangkan. Nah keyakinan dan perasaan tenang dengan sikap itulah yang disebut sebagai etika sombong. Maka materi dasar tubuh iblis menyebabkan dia bersikap sombong terhadap “ketanahan” Nabi Adam, dan akhirnya dari sana terbentuklah akhlaq al-kibrnya.
Dari peristiwa ini, dengan gamblang kita dapat mengenal seperti apakah sebenarnya kekufuran itu dan penyebabnya. Ibnu mas’ud menceritakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda (yang maknanya): “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya masih terdapat sebiji sawi dari (akhlak) kibr…” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).
Sementara dalam sisi kehidupan yang lain, klaim takfir masih sering terjadi hanya karena persoalan kreativitas dan warna-warni perbedaan pemahaman yang masih dapat dirujuk kembali kedalam pilar-pilar agama, dan bahkan memiliki dukungan para ulama. Padahal fitrah akal itu ya memahami apa saja yang dijangkaunya, dengan metode dan cara yang didapatkannya. Dan seiring perkembangan zaman, “kreasi” akal pun ikut berkembang. Tidak dielakkan, yang namanya bid’ah pasti muncul dan jelas ada. Tapi sebenarnya lebih layak mana antara mengkafirkan seseorang dengan dasar bid’ah yang belum tentu sesat, dibandingkan dengan dasar sifat sombong dan takabur?
Padahal bid’ah sendiri masih dipahami secara berbeda-beda oleh ulama kita, sedangkan Allah sendiri sudah jelas mengafirkan iblis karena akhlaq al-kibrnya. Soal beda pemahaman sudah banyak contohnya dimasa Rasulullah. Diantaranya cerita Ibn ‘Umar: “Saat beliau (dan para sahabat) pulang dari perang al-Ahzab bersabda: ‘Siapapun jangan melakukan shalat ‘ashr kecuali di perkampungan Bani Quraidhah nanti’. Dan beberapa sahabat pun menjumpai waktu ‘ashr di tengah jalan, sebagian mereka mengatakan: ‘kita tidak boleh shalat (‘ashr) hingga kita sampai di Bani Quraidhah’. Sebagian mereka lagi ada yang mengatakan: ‘justru kita harus shalat (sekarang), beliau tidak memaksudkan hal itu (mesti shalat ‘ashr di Bani Quraidhah) kepada kita’. Lalu kejadian tadi dilaporkan kepada Rasulullah dan beliau tidak menyalahkan siapa pun”.
Rifa’ah ibn Rafi’ juga pernah cerita: “Aku pernah shalat dibelakang Rasulullah, aku pun bersin dan aku mengucap: ‘alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Lalu saat Rasulullah selesai shalat beliau menoleh ke belakang dan Tanya: ‘siapa itu tadi yang mengucap pas sedang shalat?’. Tidak ada yang berani menjawab. Beliau Tanya lagi: ‘siapa itu tadi yang bicara pas sedang shalat?’. Rifa’ah ibn Rafi’ menjawab (ini kalimat perawi hadits): ‘saya yang bicara, Rasul’. Beliau Tanya lagi: ‘kamu biacara apa tadi?’. Rifa’ah berkata: ‘Aku mengatakan alhamdulillāh, hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh kamā yuhibbu rabbunā wa yardhā’. Beliau pun bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada pada kekuasaanNya, tadi itu – sekitar – tigapuluh lebih malaikat saling berebut cepat-cepat mengangkat dzikir tersebut (ke atas sana)’. Menurut at-Tirmidzi ini hadits ħasan.
Ya, karena kecintaan dan rasa rendah hati para shahabat, mereka tidak segan-segan untuk menambah kebaikan. Mungkin saja, kalau ada yang meniru sahabat Rifa’ah di zaman kita ini, apalagi di kampung halaman kita, pasti dia sudah di persalahkaan dan disebut macam-macam. Jadi, disamping mereka sangat ‘kreatif’ dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, mereka juga rendah hati, tidak mudah menuduh kufur kecuali berkaitan dengan penyelewengan dalam soal akidah (ma’lūm min addīn bi addharūrah). Hingga setelah Rasulullah tiada, dan kasus-kasus perpecahan banyak terjadi, dan klaim takfir sudah muncul saat itu.
Suatu saat Imam Ali ibn Abi Thalib r.a. ditanyai soal kelompok-kelompok dalam Islam, “Apakah mereka itu kafir?”. Beliau menjawab: “Oh Tidak, mereka malah menjauhi kekafiran kok”. Ditanya lagi “Mereka munafikkah?”. Beliau menjawab: “Orang-orang munafik itu jarang sekali mengingat Allah, lha sedangkan mereka sering sekali mengingat Allah”. Dan ditanya lagi “Lha terus mereka itu apa dong?”. Beliau menjawab: “Mereka adalah kelompok yang sedang terprovokasi, sehingga mereka menjadi buta dan tuli”, maksudnya tidak mampu melihat dan mendengar hal yang benar dengan sebaik-baiknya. (Diceritakan dalam kitab Mafahim yajib an-tushoħħah)
Dari shabat Anas r.a. Rasulullah saw. Bersabda: “Ada tiga yang termasuk pilar keimanan: menjaga (sikap) diri dari orang yang mengatakan Lā ilāha illa Allāh, kita tidak mengafirkannya sebab perbuatan dosanya dan kita tidak mengeluarkannya dari Islam karena (suatu) amalan. Kemudian berjihad sejak Aku di utus oleh Allah sampai nanti generasi terakhir umatku menghancurkan Dajjal, tidak dipangaruhi oleh kejahatan siapa pun dan keadilan siapa pun. Kemudian beriman kepada ketentuan-ketentuan (Allah)”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Jadi, - mungkin - bisa kita ambil kesimpulan, bahwa tidak mesti setiap bid’ah menyebabkan kufur, akan tetapi justru setiap bentuk kesombongan (kibr) jelas menyebabkan kufur. Begitukah atau seharusnya seperti itu? Wallahu a’lam.
Kairo, 16 Oktober 2011




0 comments:

Post a Comment