Nikmatnya Bersilat Lidah Dengan Liberty

Posted On // Leave a Comment

Seorang lelaki berkulit hitam setelah bercakap dengan Liberty, tanpa Liberty tahu siapa sebenarnya si lelaki yang bernama Joe itu, berpikir sejenak untuk melakukan aksi berikutnya. Nafasnya berkali-kali dihelanya dengan berat. Dibalik jendela kaca pada ketinggian puncak sebuah gedung di sekitar taman kota dia melihat keluar bawah tampak sana sangat ramai. Macam-macam kelompok kepolisian dan keamanan sudah menguasai area untuk segera menemukan pelaku teror yang sedang berlangsung.
Dia berpikir, sulit untuk lolos mengingat posisinya sudah begini. Tapi untunglah rekamanan percakapan antara dirinya dengan Liberty tadi sudah ia kirimkan ke sebuah lembaga otoritas. Dia yakin, pasti kasus itu akan ditangani. Dengan sikap tenang, dia acungkan pucuk pistol revolver handgun ke dagunya, mengarah ke atas. Dan dalam satu tarikan ringan jarinya, kepanya sudah ditembus pelurunya. Dia mati. Darahnya yang kental membanjiri lantai. Lalu dalam beberapa detik saja, pasukan SAS sudah mengepung mayatnya yang masih segar itu. Ya, teroris itu sudah mengakhiri hidupnya.

Liberty Stand Still
Itu tadi hanya sepenggal peristiwa terakhir dalam film Liberty Stand Still. Film yang disutradarai Kari Skogland dirilis pada tahun 2002. Buat penggemar film-film action atau penggemar tokoh-tokoh tertentu, genre film ini tidak menarik. Tapi jika kamu suka membaca novel seperti karya Agatha Crhistie atau Sidney Sheldon, kamu akan sangat menikmati film ini. Ya, novel memang cenderung dramatis. Tapi percayalah, kedramatisan Liberty Stand Still tidak sedramatis – misalnya – cerita-cerita dalam film Korea atau seperti telenovella. Liberty Stand Still menyajikan sebuah drama silat lidah yang cerdas dan mengasyikkan.
Pertama, lokasi / setting film 98 persen berada pada satu lokasi. Sebuah taman yang didepannya terdapat gedung teater. Saya tidak tahu nama tempat itu. Bayangkan, 98 persen! Hanya orang-orang itu saja, dan tempat itu saja yang ditampilkan. Tapi justru disinilah menariknya, saya tidak menemukan rasa bosan, bahkan semakin penasaran dari menit ke menit selanjutnya.
Kedua, alur yang tidak mudah dibaca. Meskipun sejak percakapan antara Joe dan Liberty terjadi si lakon sudah bisa ditebak. Tapi, menariknya justru orang yang saya yakini sebagai lakon akhirnya mati, dan orang yang saya kira penjahat malah dibiarkan hidup karena dia sadar dengan dosa-dosanya. Juga alur tersebut tidak dikandalikan oleh bentuk adegan yang berlainan, tetapi dengan pembicaraan. Ya, hanya melalui pembicaraan antara Joe dan Liberty, saya bisa menggambarkan seolah-olah adegan lain dan tokoh lain di tempat lain sedang terjadi. Padahal scene-nya hanya mereka berdua saja.
Ketiga, silat lidah. Joe, seorang kulit hitam warga negara AS adalah mantan anggota militer yang sudah menjalankan banyak misi. Melalui telepon dan bersembunyi dibalik tembok gedung, dia mengadu dan menghakimi Liberty Wallace, istri seorang anggota parlemen Victor Wallace. Ayah Liberty telah meninggal dan mewariskan perusahaan senjata api McCloud. Tapi demi mengembangkan pabrik itu, oleh sang ayah Liberty dinikahkan dengan Victor mengingat posisinya di parlemen. Liberty tidak cinta, dia pun selingkuh dengan seorang pemeran teater, Russell Williams.
Anak perempuan Joe satu-satunya yang masih duduk di SD mati karena menjadi korban penembakan teman sekelasnya. Ternyata pistol yang digunakan adalah produk McCloud. Joe berang dan dendam, dia pun menghakimi McCloud melalui Liberty dengan cara unik. Hanya melalui pembicaraan telepon, Joe mampu memborgol kaki Liberty pada sebuah gerobak sandwich di tengah taman. Dan saat itulah Joe mendebat Liberty, sebuah debat yang akhirnya menyadarkan Liberty tentang keburukan bisnis senjata api. Hebatnya, Liberty sebagai seorang wanita kaya raya, istri pejabat, mudah berkata kotor dan cabul, bisa sadar.
Keempat, ide cerita. Menarik, karena silat lidah itu mengungkap alur cerita yang sebenarnya panjang. Tapi timing peristiwa dalam film tersebut dibuat seperti nyata. Semua percakapan antara Liberty dengan Joe tidaklah memakan waktu hingga setengah hari, tidak ada scene pergantian hari. Yang terjadi, percakapan tersebut berjalan secara realtime, live, seperti kita menonton sepak bola secara live. Dan peristiwa itu pun berakhir pada hari itu juga. Cerita yang dimuat juga realistis. Ini mencontohkan sebuah protes / demontrasi dengan cara unik, tetapi konkrit (its works). Pemrotes berhasil mencapai maksudnya sesuai kapasitas masalahnya, meskipun pada akhirnya dia mati.

Dan akhirnya..
Inti film Liberty Stand Still memang balas dendam. Tapi penilaian saya bukan pada hal ini. Rata-rata film bertemakan balas dendam atau kepahlawanan. Hanya saja cara dan ceritanya berbeda-beda. Liberty Stand Still menawakan sebuah konsep berbeda dalam menuntun cerita serta setting latarnya dalam perfilman. Tapi sungguh, konsep seolah-olah live dan realtime itu yang memang menarik.



0 comments:

Post a Comment